Analisis
Pop up
A.
Definisi Pop Up
Pop-up berasal dari bahasa inggris yang berarti
“muncul keluar” sedangkan buku Pop-up dapat diartikan sebagai buku yang
berisi catatan atau kertas bergambar tiga dimensi yang mengandung unsur
interaktif pada saat dibuka seolah-olah ada sebuah benda yang muncul dari dalam
buku (Robet,15 Agustus 2012).
Penggunaan buku seperti ini bermula dari abad ke-13 pada
awalnya pop- up digunakan untuk mengerjakan anatomi, matematika, membuat
perkiraan astronomi, menciptakan sandi rahasia dan meramalkan nasib. Selama
berabad-abad lamanya buku seperti ini hanya digunakan untuk membantu pekerjaan
ilmiah. Hingga abad ke-18 teknik ini mulai di terapkan pada buku yang dirancang
sebagai hiburan terutama ditujukan untuk anak-anak. [Sumber: hort History of
Pop-ups , www.markhiner.co.uk/history-text.htm).
Menurut Ellen G. Kreiger Rubin seorang professional
dan pengamat dibidang paper enginnering, Pop-Up ialah
sebuah ilustrasi yang ketika halaman tersebut dibuka, ditarik, atau diangkat,
akan timbul tingkatan dengan kesan tiga dimensi. Sedangkan menurut Dzuanda, B yang membuat “Buku cerita anak pop-up tokoh-tokoh wayang berseri” buku pop up adalah buku yang memiliki bagian
yang dapat bergerak atau berunsur 3 dimensi.
Media pengaplikasian untuk Pop-Up cukup beragam. Pop-Up
dapat digunakan dalam buku bergambar,
kartu ucapan, dan masih banyak lagi. Buku anak juga merupakan salah satu media
yang paling sering digunakan sebagai media pengaplikasian dalam Pop-Up. Banyak sekali metode yang
digunakan dalam Pop-Up akan tetapi lipatan dan siku- siku merupakan
dasar yang paling utama dalam pembuatan Pop-Up.
Pop-Up biasa dikenal
juga sebagai teknik rekayasa kertas atau paper crafting, yang
merupakan salah satu turunan keilmuan dari paper engineering, yaitu
sebuah ilmu yang membahas tentang kertas, baik cara mengelolanya maupun cara
memprosesnya. Selain itu Pop-Up, origami, dan juga
packaging masih dalam satu turunan keahlian yang sama
yaitu Paper Enginnering. Jenis Pop-Up ada bermacam-macam, beberapa diantaranya adalah pop-ups,
transformations, tunnel
books, volvelles, flaps, pull-tabs,
pop-outs, pull-downs dan
sebagainya. Beberapa buku pop-up hanya mengunakan salah satu jenis, yang lainnya
menggunakan lebih dari satu jenis.
B.
Jenis-jenis
pop up
1.
Transformations
Transformations
adalah tampilan bentuk Pop-up yang terdiri dari
potongan– potongan Pop-up yang disusun secara vertikal. Apabila menarik
lembar halaman ke samping atau ke atas sehinga tampilan dapat berubah ke bentuk
yang berbeda.
KELEBIHAN:
1.
Visualisasi cerita
lebih menarik
2.
Tampilan
gambar terlihat lebih berdimensi.
3. Ilustrasi
dalam cerita bergambar terlihat lebih menarik dan jelas.
4. Memberikan
kejutan-kejutan dalam setiap halamannya.
5. Meningkatkan
daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut
6. Membantu
dalam proses memahami.
KELEMAHAN:
1. Harga
yang cukup mahal. Pembuatan pop up tansformation membutuhkan banyak alat dan
bahan. Misalnya, berbagai macam kertas, pensil warna, lem, dan lainnya.
2. Proses
pembuatan rumit. Pop up transformation dibentuk seperti berdimensi, sehingga
dalam pembuatannya dibutuhkan suatu kreativitas yang tinggi.
3. Membutuhkan
ketelitian dan konsentrasi yang tinggi.
4. Memakan
waktu lebih lama.
SARAN:
Guru
sebaiknya membuat media pembelajaran dengan pop-up transformation untuk
menjelaskan tentang materi pelajaran. Misalnya, dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru dapat
membuat cerita bergambar. Hal ini akan membuat siswa lebih memahami materi
cerita yang disampaikan. Namun, dalam pembuatannya juga harus sesuai dengan
materi yang disampaikan. Untuk itu, guru
harus kreatif dalam membuat tema pop up yang mampu menarik dan memancing
perhatian siswa untuk memahami materi yang di berikan.
Volvelles
adalah
tampilan bentuk Pop-up yang mengunakan unsur lingkaran dalam
pembuatannya, tampilan ini memiliki bagian-bagian yang dapat berputar.
Volveless merupakan jenis pop up pertama yang muncul yakni melibatkan peranan poros pada susunan mekanis kertas. Teori
tentang volvelles ini dicetuskan oleh Matthew Paris (1200-1259) dan Ramon Llull (1235-1316). (www.popuplady.com). Secara
teknis, movable book pada volvelles dapat
dinikmati dengan cara memutar bagian kertas yang berporos tersebut. Pada
perkembangan selanjutnya, tahun 1500-an movable book dimanfaatkan
untuk bidang medis dalam menggambarkan anatomi tubuh manusia.
KELEBIHAN:
1. Dapat
digunakan untuk menjelaskan suatu hal.
2. Sebagai
media untuk mempercepat pemahaman terhadap suatu hal.
3. Meningkatkan
daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut.
KELEMAHAN:
1. Harga
yang cukup mahal.
2. Proses
pembuatan rumit.
3. Membutuhkan
ketelitian dan konsentrasi yang tinggi.
4. Memakan
waktu lebih lama.
5. Kurang
menarik karena hanya terdapat sedikit gambar.
6. Hanya
dimanfaatkan untuk beberapa hal/ tujuan tertentu. Misalnya, volveless seringkali
digunakan untuk bidang medis dalam menggambarkan
anatomi tubuh manusia.
SARAN
Guru
sebaiknya menggunakan volveless untuk beberapa mata pelajaran. Misanya, mata
pelajaran IPA tentang anatomi tubuh manusia dan fase-fase bintang. Harus
selektif dalam memilih jenis pop up yang akan digunakan untuk menyampaikan
materi pelajaran. Selain itu, guru harus kreatif dalam membuat tema pop up yang
mampu menarik dan memancing perhatian siswa untuk memahami materi yang di
berikan.
3.
Carousel
Carousel
didukung
dengan tali, pita, kancing, dan lain sebagainya jika dibuka dan dilipat kembali
akan berbentuk benda yang kompleks. Hal ini menciptakan serangkaian tampilan
dua dimensi ataupun tiga dimensi sehinga menyajikan bentuk nyata.
KELEBIHAN:
1. Memberikan
gambaran sesuai bentuk yang nyata
2. Ilustrasi
dalam cerita bergambar terlihat lebih menarik dan jelas.
3. Memberikan
kejutan-kejutan dalam setiap halamannya.
4. Meningkatkan
daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut
5. Membantu
dalam proses memahami.
KELEMAHAN:
1. Cepat
rusak jika tidak dirawat.
2. Harga
yang cukup mahal.
3. Proses
pembuatan rumit. Dalam proses pembuatannya diperlukan tingkat kreativitas dan
daya konsentrasi yang tinggi karena apabila kesalahan dalam menggunting maka
bentuknya tidak akan sesuai dengan bentuk yang nyata.
4. Modal
biaya besar.
5. Memakan
waktu lebih lama.
SARAN:
Guru
sebaiknya menggunakan volveless untuk beberapa mata pelajaran. Misanya, mata
pelajaran IPS tentang alat transportasi. Harus selektif dalam memilih jenis pop
up yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Selain itu, guru
harus kreatif dalam membuat tema pop up yang mampu menarik dan memancing
perhatian siswa untuk memahami materi yang di berikan.
Contoh
Pop up disekolah dasar misalnya pop up tentang keanekaragaman agama dan budaya
di Indonesia
Keunggulan:
1. Visualisasi gambar pada halaman awal
terlihat menarik dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya.
Misalnya, bentuk tempat ibadah dibuat seperti benda nyatanya.
2. Visualisasi gambar pada halaman awal
terlihat karena membentuk benda nyatanya. Misalnya, bentuk tempat ibadah dibuat
seperti benda nyatanya.
3. Gambar dapat bergerak ketika
halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk.
Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
4. Membuat materi pelajaran yang
sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
5. Pemilihan materi keberagaman agama dan
suku sangat cocok karena disukai siswa.
6. Mampu memancing antusias siswa dalam
mengikuti pelajaran.
7. Mampu memperkuat kesan yang ingin
disampaikan.
Kelemahan:
1. Pembuatan buku pop-up memakan waktu lebih
lama dibanding buku biasa.
2. Buku ini mempunyai mekanisme yang
lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian
yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3. Jenis
buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku
lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4. Warna
kurang menarik.
5. Teknik
membuat pop up kurang bervariasi.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan pelatihan untuk membuat
pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang
pendidikan.
Keunggulan:
1. Visualisasi gambar pada halaman awal
terlihat menarik dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya.
Misalnya, gunung dan perahu dibuat seperti nyata.
2. Gambar dapat bergerak ketika
halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk.
Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
3. Membuat materi pelajaran yang
sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
4. Pemilihan materi kenampakan alam sangat
cocok karena diminati siswa.
5. Mampu memancing antusias siswa dalam
mengikuti pelajaran.
6. Mampu memperkuat kesan yang ingin
disampaikan.
Kelemahan:
1. Pembuatan buku pop-up memakan waktu
lebih lama dibanding buku biasa.
2. Buku ini mempunyai mekanisme yang
lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian
yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3. Jenis
buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku
lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4. Buku
tidak tahan lama.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan pelatihan untuk membuat
pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang
pendidikan. Pembuatan bentuk sebaiknya lebih bervariasi dan perlu menambahkan
objek-objek lain yang mendukung.
Kelebihan:
1. Visualisasi gambar terlihat menarik
dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya.
2. Gambar dapat bergerak ketika
halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk.
Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
3. Membuat materi pelajaran yang
sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
4. Mampu memancing antusias siswa dalam
mengikuti pelajaran.
5. Mampu memperkuat kesan yang ingin
disampaikan.
Kelemahan:
1. Pembuatan buku pop-up memakan waktu
lebih lama dibanding buku biasa.
2. Buku ini mempunyai mekanisme yang
lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian
yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3. Jenis
buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku
lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4. Cerita
tentang Al- Kitab kurang diminati oleh banyak orang.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan
pelatihan untuk membuat pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang,
terutama bidang pendidikan. Sebaiknya pemilihan materi perlu diperhatikan agar
pembuatan pop up dapat dimanfaatkan secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arief S. Sadiman dkk. 2006. Media Pendidikan: Pengertian,
Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Azhar Arsyad. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
Nila Rahmawati. 2014. Pengaruh Media Pop-Up Book Terhadap
Penguasaan Kosa Kata Anak Usia 5-6 Tahun di TK Putera Harapan Surabaya.
Diakses di www.unesa.ac.id pada tanggal 28
Oktober 2016 pukul 17.30