Senin, 31 Oktober 2016


Analisis Pop up

A.    Definisi Pop Up
Pop-up berasal dari bahasa inggris yang berarti “muncul keluar” sedangkan buku Pop-up dapat diartikan sebagai buku yang berisi catatan atau kertas bergambar tiga dimensi yang mengandung unsur interaktif pada saat dibuka seolah-olah ada sebuah benda yang muncul dari dalam buku (Robet,15 Agustus 2012).
Penggunaan buku seperti ini bermula dari abad ke-13 pada awalnya pop- up digunakan untuk mengerjakan anatomi, matematika, membuat perkiraan astronomi, menciptakan sandi rahasia dan meramalkan nasib. Selama berabad-abad lamanya buku seperti ini hanya digunakan untuk membantu pekerjaan ilmiah. Hingga abad ke-18 teknik ini mulai di terapkan pada buku yang dirancang sebagai hiburan terutama ditujukan untuk anak-anak. [Sumber: hort History of Pop-ups , www.markhiner.co.uk/history-text.htm).
Menurut Ellen G. Kreiger Rubin seorang professional dan pengamat dibidang  paper enginneringPop-Up ialah sebuah ilustrasi yang ketika halaman tersebut dibuka, ditarik, atau diangkat, akan timbul tingkatan dengan kesan tiga dimensi. Sedangkan menurut Dzuanda, B yang membuat “Buku cerita anak pop-up tokoh-tokoh wayang berseri” buku pop up adalah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau berunsur 3 dimensi.
Media pengaplikasian untuk Pop-Up cukup beragam. Pop-Up dapat digunakan dalam buku bergambar, kartu ucapan, dan masih banyak lagi. Buku anak juga merupakan salah satu media yang paling sering digunakan sebagai media pengaplikasian dalam Pop-Up. Banyak sekali metode yang digunakan dalam Pop-Up akan tetapi lipatan dan siku- siku merupakan dasar yang paling utama dalam pembuatan Pop-Up.
Pop-Up  biasa dikenal juga sebagai teknik rekayasa kertas atau paper crafting, yang merupakan salah satu turunan keilmuan dari paper engineering, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang kertas, baik cara mengelolanya maupun cara memprosesnya. Selain itu Pop-Uporigami, dan juga  packaging  masih dalam satu turunan keahlian yang sama yaitu  Paper Enginnering. Jenis Pop-Up ada bermacam-macam,  beberapa diantaranya adalah  pop-ups,  transformations,  tunnel books,  volvelles, flaps,  pull-tabs,  pop-outs,  pull-downs dan sebagainya. Beberapa buku pop-up hanya mengunakan salah satu jenis, yang lainnya menggunakan lebih dari satu jenis.

B.     Jenis-jenis pop up
1.      Transformations


Transformations adalah tampilan bentuk Pop-up yang terdiri dari potongan– potongan Pop-up yang disusun secara vertikal. Apabila menarik lembar halaman ke samping atau ke atas sehinga tampilan dapat berubah ke bentuk yang berbeda.
KELEBIHAN:
1.      Visualisasi cerita lebih menarik
2.      Tampilan gambar terlihat lebih berdimensi.
3.      Ilustrasi dalam cerita bergambar terlihat lebih menarik dan jelas.
4.      Memberikan kejutan-kejutan dalam setiap halamannya.
5.      Meningkatkan daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut
6.      Membantu dalam proses memahami.
KELEMAHAN:
1.      Harga yang cukup mahal. Pembuatan pop up tansformation membutuhkan banyak alat dan bahan. Misalnya, berbagai macam kertas, pensil warna, lem, dan lainnya.
2.      Proses pembuatan rumit. Pop up transformation dibentuk seperti berdimensi, sehingga dalam pembuatannya dibutuhkan suatu kreativitas yang tinggi.
3.      Membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi.
4.      Memakan waktu lebih lama.
SARAN:
Guru sebaiknya membuat media pembelajaran dengan pop-up transformation untuk menjelaskan tentang materi pelajaran. Misalnya,  dalam pelajaran bahasa Indonesia, guru dapat membuat cerita bergambar. Hal ini akan membuat siswa lebih memahami materi cerita yang disampaikan. Namun, dalam pembuatannya juga harus sesuai dengan materi yang  disampaikan. Untuk itu, guru harus kreatif dalam membuat tema pop up yang mampu menarik dan memancing perhatian siswa untuk memahami materi yang di berikan.

2.      Volvelles
Volvelles adalah tampilan bentuk Pop-up yang mengunakan unsur lingkaran dalam pembuatannya, tampilan ini memiliki bagian-bagian yang dapat berputar. Volveless merupakan jenis pop up pertama yang muncul yakni melibatkan peranan poros pada susunan mekanis kertas. Teori tentang volvelles ini dicetuskan oleh Matthew Paris (1200-1259) dan Ramon Llull (1235-1316). (www.popuplady.com). Secara teknis, movable book pada volvelles dapat dinikmati dengan cara memutar bagian kertas yang berporos tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1500-an movable book dimanfaatkan untuk bidang medis dalam menggambarkan anatomi tubuh manusia.

KELEBIHAN:
1.      Dapat digunakan untuk  menjelaskan suatu hal.
2.      Sebagai media untuk mempercepat pemahaman terhadap suatu hal.
3.      Meningkatkan daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut.

KELEMAHAN:
1.      Harga yang cukup mahal.
2.      Proses pembuatan rumit.
3.      Membutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang tinggi.
4.      Memakan waktu lebih lama.
5.      Kurang menarik karena hanya terdapat sedikit gambar.
6.      Hanya dimanfaatkan untuk beberapa hal/ tujuan tertentu. Misalnya, volveless seringkali digunakan untuk bidang medis dalam menggambarkan anatomi tubuh manusia.

SARAN
Guru sebaiknya menggunakan volveless untuk beberapa mata pelajaran. Misanya, mata pelajaran IPA tentang anatomi tubuh manusia dan fase-fase bintang. Harus selektif dalam memilih jenis pop up yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Selain itu, guru harus kreatif dalam membuat tema pop up yang mampu menarik dan memancing perhatian siswa untuk memahami materi yang di berikan.

3.      Carousel






Carousel didukung dengan tali, pita, kancing, dan lain sebagainya jika dibuka dan dilipat kembali akan berbentuk benda yang kompleks. Hal ini menciptakan serangkaian tampilan dua dimensi ataupun tiga dimensi sehinga menyajikan bentuk nyata.
KELEBIHAN:
1.      Memberikan gambaran sesuai bentuk yang nyata
2.      Ilustrasi dalam cerita bergambar terlihat lebih menarik dan jelas.
3.      Memberikan kejutan-kejutan dalam setiap halamannya.
4.      Meningkatkan daya imajinasi anak.memahami isi dari buku tersebut
5.      Membantu dalam proses memahami.
KELEMAHAN:
1.      Cepat rusak jika tidak dirawat.
2.      Harga yang cukup mahal.
3.      Proses pembuatan rumit. Dalam proses pembuatannya diperlukan tingkat kreativitas dan daya konsentrasi yang tinggi karena apabila kesalahan dalam menggunting maka bentuknya tidak akan sesuai dengan bentuk yang nyata.
4.      Modal biaya besar.
5.      Memakan waktu lebih lama.
SARAN:
Guru sebaiknya menggunakan volveless untuk beberapa mata pelajaran. Misanya, mata pelajaran IPS tentang alat transportasi. Harus selektif dalam memilih jenis pop up yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Selain itu, guru harus kreatif dalam membuat tema pop up yang mampu menarik dan memancing perhatian siswa untuk memahami materi yang di berikan.
Contoh Pop up disekolah dasar misalnya pop up tentang keanekaragaman agama dan budaya di Indonesia















Keunggulan:
1.      Visualisasi gambar pada halaman awal terlihat menarik dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya. Misalnya, bentuk tempat ibadah dibuat seperti benda nyatanya.
2.      Visualisasi gambar pada halaman awal terlihat karena membentuk benda nyatanya. Misalnya, bentuk tempat ibadah dibuat seperti benda nyatanya.
3.      Gambar dapat bergerak ketika halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk. Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
4.      Membuat materi pelajaran yang sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
5.      Pemilihan materi keberagaman agama dan suku sangat cocok karena disukai siswa.
6.      Mampu memancing antusias siswa dalam mengikuti pelajaran.
7.      Mampu memperkuat kesan yang ingin disampaikan.
Kelemahan:
1.      Pembuatan buku pop-up memakan waktu lebih lama dibanding buku biasa.
2.      Buku ini mempunyai mekanisme yang lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3.      Jenis buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4.      Warna kurang menarik.
5.      Teknik membuat pop up kurang bervariasi.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan pelatihan untuk membuat pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang pendidikan.

Keunggulan:
1.      Visualisasi gambar pada halaman awal terlihat menarik dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya. Misalnya, gunung dan perahu dibuat seperti nyata.
2.      Gambar dapat bergerak ketika halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk. Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
3.      Membuat materi pelajaran yang sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
4.      Pemilihan materi kenampakan alam sangat cocok karena diminati siswa.
5.      Mampu memancing antusias siswa dalam mengikuti pelajaran.
6.      Mampu memperkuat kesan yang ingin disampaikan.
Kelemahan:
1.      Pembuatan buku pop-up memakan waktu lebih lama dibanding buku biasa.
2.      Buku ini mempunyai mekanisme yang lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3.      Jenis buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4.      Buku tidak tahan lama.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan pelatihan untuk membuat pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang pendidikan. Pembuatan bentuk sebaiknya lebih bervariasi dan perlu menambahkan objek-objek lain yang mendukung.








Kelebihan:
1.      Visualisasi gambar terlihat menarik dan lebih berdimensi karena membentuk benda nyatanya.
2.      Gambar dapat bergerak ketika halaman-nya dibuka atau bagiannya digeser, bagian yang dapat berubah bentuk. Hal ini membuat siswa takjub ketika membuka halaman-halamannya.
3.      Membuat materi pelajaran yang sampaikan guru lebih menyenangkan dan menarik untuk dinikmati.
4.      Mampu memancing antusias siswa dalam mengikuti pelajaran.
5.      Mampu memperkuat kesan yang ingin disampaikan.
Kelemahan:
1.      Pembuatan buku pop-up memakan waktu lebih lama dibanding buku biasa.
2.      Buku ini mempunyai mekanisme yang lebih rumit dibandingkan dengan buku lainnya sehingga memerlukan ketelitian yang lebih tinggi agar menjaga buku tersebut terus bertahan lama.
3.      Jenis buku seperti ini sangatlah sedikit beredar di masyarakat kita, terutama buku lokal. Kebanyakan merupakan buku impor.
4.      Cerita tentang Al- Kitab kurang diminati oleh banyak orang.
Saran
Diperlukan sosialisasi dan pelatihan untuk membuat pop up yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, terutama bidang pendidikan. Sebaiknya pemilihan materi perlu diperhatikan agar pembuatan pop up dapat dimanfaatkan secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arief S. Sadiman dkk. 2006. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Azhar Arsyad. 2005. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Nila Rahmawati. 2014. Pengaruh Media Pop-Up Book Terhadap Penguasaan Kosa Kata Anak Usia 5-6 Tahun di TK Putera Harapan Surabaya. Diakses di www.unesa.ac.id pada tanggal 28 Oktober 2016 pukul 17.30


Tidak ada komentar:

Posting Komentar